Kamis, 24 April 2008

FOTO UDARA DESA BINAAN SOS DESA TARUNA DI BANDA ACEH (SOCIAL CENTER)

Beberapa waktu yang lalu, ketika saya pulang dari acara Rapim di Bandung (6 April 2008), saya menyempatkan diri untuk mengambil foto udara Desa Lambada Lhok dengan menggunakan kamera biasa. Desa tersebut terletak dibibir pantai Samudera Indonesia. Desa ini adalah Desa Binaan dari SOS Desa Taruna Indonesia di Banda Aceh.
Apabila kita melihat foto tersebut, nampak terlihat beberapa rumah yang beratapkan seng warna coklat dan seng warna hijau, rumah-rumah tersebut adalah rumah-rumah yang dibangun untuk membantu para korban bencana gelombang Tsunami yang kehilangan tempat tinggal. Rumah tersebut dibangun oleh SOS Desa Taruna Indonesia di Desa Lambada Lhok, Kec. Baitussalan, Kab. Aceh Besar.
Keterangannya adalah (1) Sekolah Dasar Negeri Lambada Klieng, yaitu sebuah sekolah dasar unggulan di wilayah Aceh Besar yang dibangun oleh SOS Desa Taruna Indonesia. (2) Taman Kanak-kanak Tuanku Abdul Aziz yang dibangun oleh SOS Desa Taruna Indonesia. (3) Puskesmas yang dibangun oleh Rollroyces. (4) Kantor Desa Lambada Lhok. (5) Mesjid. (6) Tempat Pelelangan Ikan (TPI). (7) Samudera Indonesia.




Kamis, 03 April 2008

MENGISI LIBURAN SEKOLAH

Dalam rangka mengisi liburan semester 2007-2008, maka pada tanggal 19 Januari 2008, diadakan acara rekreasi bagi anak-anak remaja ke Air Terjun di Lhoong, Aceh Besar. Sedangkan tanggal 20 Januari 2008, diadakan rekreasi bagi anak-anak SD putra/putri ke pantai Ujung Batee.

KURSUS SINGKAT MOTIF ACEH

Pada tanggal 15 s/d 18 Januari 2008 dilaksanakan kursus singkat selama 3 hari untuk belajar menghias motif aceh bertempat di Nyak Ni (Pengusaha Kerajinan Tradisional Aceh), dengan bahan kain beludru dan payung. Yang mengikuti kursus singkat ini adalah beberapa ibu, yaitu Ibu Murni, Ibu Neli, Ibu Rosmiati, Ibu Eva, Ibu Ida. Ditambah semua anak remaja putri yang berjumlah 11 anak.

PENTAS SENI DI HOTEL GRAND NANGGROE

Tanggal 16 Januari 2008, Kunjungan dari Rotary sebanyak 30 orang. Pada malamnya anak-anak SOS Desa Taruna Banda Aceh mengisi acara di Hotel Grand Nanggroe yang merupakan acara Rotary, yaitu dengan mempersembahkan 2 (dua) buah tarian yang dibawakan oleh remaja putra adalah tari “Likok Puloe”, dan dari anak-anak putri adalah tari “Ranup Lampuan”.

PERESMIAN RUMAH BAITUSAKINAH DAN BAITURAHMAH

Tanggal 13 Januari – 14 Januari 2008, peresmian dua buah rumah yang didanai oleh pemerintah provinsi South Tyrol Italia. Yang meresmikan adalah : Gubernur Propinsi South Tyrol Mr. Dr. Luis Durnwalder, Mr. Dr. Klaus LutheR, Mrs. Dr. Elisabeth Spergser, Mr. Dr. Otwin Notdurfter, Mr. Dr. Franz Pircher, Marchiodi Mirko
Rumah yang diresmikan adalah rumah FH 14 yang diberi nama Rumah Baitussakinah dan rumah FH 15 yang bernama rumah Baiturahmah.

MENYAMBUT 1 MUHARAM 1428 H

Tanggal 09 Januari 2008, perayaan 1 Muharram 1428 H dengan acara ceramah agama yang disampaikan oleh Tgk. Syafruddin Iba (Abi Usi), tamu-tamu yang diundang antara lain : MUSPIKA Kecamatan Darul Imarah (Camat, Danramil, Kapolsek), Perangkat Desa Lamreung, Bayu, Lamcot, Lampeuneurut Gampong, Lampeuneurut Ujoeng Blang. Kemudian Desa Bayu, Pengurus Mesjid Lamreung dan Mesjid Lampeuneurut. Juga tokoh-tokoh Masyarakat : H. M. Ali Usman, Tgk. H. Abdussalam Agmad, H. Zainun Sarung, H. Di Mahmud, Bapak Samsunan, Tgk. Irwansyah Azwar, Bapak T. Surya Darma SE.Ak., Ustadz Gufron (Al-Fitiyan). Serta Pimpinan Pesantren : Pesantren Thalibul Huda, YADDA (Yayasan Dayah Darul ‘Amilin, Yayasan Ulee Titi, Darul Maghrifah, Misbakhul Fata.

REKREASI KARYAWAN

Pada tanggal 30 Desember 2007, diadakan kegiatan rekreasi bagi semua karyawan SOS Desa Taruna Banda Aceh beserta keluarganya ke Rumah Makan 'Adem Ayem', di daerah Jantho Ibukota Aceh Besar.

SANG JUARA

Pada tanggal 24 Desember 2007, salah satu anak SOS Desa Taruna Banda Aceh, yaitu Satria Darusman mengikuti Kejuaraan Tae Kwon Do tingkat pelajar (SMU) se Nanggroe Aceh Darussalam. Dia mendapat Juara III, dengan mendapat medali perunggu dan uang pembinaan seratus ribu rupiah.

PERESMIAN RUMAH BAITUSSALAM (FH11)

Pada tanggal 04 November – 10 November 2007 diadakan acara peresmian salah satu rumah yang didanai oleh Hempel Foundation dan SOS Denmark yang diwakilkan oleh : Mr. Pierre Muller (Hempel), Mrs. Pia Torp (Hempel), Mrs. Hanne Elisabeth Rasmussan (SOS), Christine Heilmann (Fotographer), Julie Heilmann (Fotographer Video).
Rumah ini diberi nama rumah Baitussalam yang berarti 'rumah sejahtera'.

Yang tinggal dirumah ini adalah Ibu Sakdiah bersama 8 anak, yaitu bernama Ayu Nurmayasari, Masri, Sariani, Paramita, Irfan, Miftahul Jannah, Maulidin, Ramadhani.

MENGISI KEGIATAN DI BULAN RAMADHAN

Untuk mengisi liburan sekolah selama bulan Ramadhan (27 September 2007) dilaksanakan kegiatan pesantren kilat di SOS Desa Taruna Banda Aceh. Para pengajarnya berasal dari HUDA (Himpunan Ulama Dayah Aceh), materi yang diberikan antara lain; belajar tentang Tajwid Al-Qur’an, bacaan indah Al-Qur’an dan kegiatan shalat berjamaah.
Anak-anak SOS Desa Taruna Banda Aceh juga ikut serta dalam kegiatan beberapa perlombaan yang diadakan oleh TPA IPKAMAL Desa Lamreung Kec. Darul Imarah Aceh Besar, anak-anak yang ikut adalah:
1. Saidah untuk lomba pembacaan ayat suci Al-Qur’an mendapat juara I (satu)
2. M. Irvan untuk lomba adzan mendapat juara II (dua) dan untuk lomba hafalan surat-surat pendek mendapat juara III (tiga)
3. M. Raja Felaridho untuk lomba hafalan do’a sehari-hari mendapat juara II (dua) dan untuk lomba peragaan busana muslim mendapat juara II (dua)
4. Khalida Zia, Saidah, Muna Mailisa, Monalisa Ariska, Maharani untuk lomba shalat berjamaah mendapat juara I (satu)
Serta juga ikut serta dalam perlombaan yang diadakan di luar Desa Lamreung Kec. Darul Imarah yaitu :
1. Saidah untuk lomba MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an) Tingkat Desa Cabang Tilawatil Al-Qur’an Golongan Anak-anak putri mulai tanggal 27 September s/d 07 Oktober 2007 di Desa Lamcot Darul Imarah Aceh Besar mendapat juara I (satu)
2. M. Irvan untuk lomba adzan dalam Gema Ramadhan 1428 H di Karang Taruna Al-Fata Jaya Desa Lamkawe Darul Imarah mendapat juara III (tiga)
(ANNO)

BERMAIN LAYANG-LAYANG

Hari ini hari Minggu. Matahari belum lagi bersinar, sisa-sisa dinginnnya malam masih terasa.
Namun terlihat kesibukan dan keasikan beberapa anak di sudut halaman rumah. Ada yang sedang memegang sebilah bambu, ada yang memegang golok, ada yang memegang pisau dapur. Hiii! Serem banget! Kok pake-pake benda tajam segala? Apakah mereka mau berantem? Ternyata tidak. Hari ini mereka mau membuat layang-layang. Wow! Asyik. Seluruh anak laki-laki SOS DESA TARUNA BANDA ACEH hari ini akan berkunpul menunjukkan kreativitas mereka membuat layang-layang.
Pak Anno tampak sibuk memberi arahan dan sedikit mengingatkan anak-anak untuk berhati-hati menggunakan peralatan. Terdengar teriakan-teriakan untuk meminjam tukar peralatan yang digunakan. Beberapa anak sudah mendapat jatah bambu. Sebagian lagi masih asik membelah dan memilah-milah bambu yang akan digunakan.
Matahari sudah bersinar terang. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh. Sudah ada yang selesai dengan bambunya. Sekarang saatnya memikirkan bentuk-bentuk layang-layang yang indah dan menarik. Beberapa saat berlalu dengan sedikit kehebohan dan canda tawa anak-anak. Timbang sana timbang sini, ikat sana ikat sini. “Saya siap!” teriak Mulya. Bentuk rangka layang-layang yang biasa kita lihat, sudah ada di tangannya. Tak lama setelah Mulya, beberapa anak selesai dengan beragam bentuk layang-layang. Wow! Keee…reeen! Ada yang layang-layangnya besar sekali, ada yang imut-imut tapi lucu.
Saatnya untuk memasang kertas. Heboh! Pilih kertas, pilih warna. “Saya Biru, saya kuning, saya yang putih aja, Pak Anno…” seruan-seruan untuk memilih warna terdengar di seantero ruangan. Dengan penuh kesabaran, Pak Anno melayani satu persatu anak. Sunyi sesaat, mereka sibuk merekatkan kerta pada rangka layang-layang.
Namun ternyata, tidak semua anak telah selesai dengan rangka layang-layangnya. Masih ada beberapa anak di sudut halaman yang masih asik dengan bambu mereka, memikirkan bentuk dan mengikat tiap sudut rangka menjadi bentuk yang artistik.
Tak lama kemudian dari dalam ruangan keluar Mulya, Raja dan Saleh yang siap menerbangkan layang-layang. Layang-layang milik Raja lebih besar dari badannya. Ekornya pun sangat panjang. Dengan terseok-seok, Raja menyeret layang-layangnya menuju lapangan. Percobaan terbang, begitu kata mereka, sehingga besok tidak malu dan mereka masih ada waktu jika kelak layang-layang mereka tidak bisa terbang. Ikhsan menyusul ke lapangan membawa layang-layang buatannya. Kecil, imut, tapi ekornya, puuuuaaanjaaang sekali…
Hari sudah semakin siang. Hari ini pembuatan layang-layang selesai. Beruntung, hari Senin hari libur nasional. Anak-anak masih bisa melanjutkan membuat layang-layang. Dan yang lebih asik lagi, layang-layang buatan anak-anak akan diterbangkan besok di lapangan Blang Padang.
Hari ini hari Senin, bertepatan dengan hari libur Nasional. Kegiatan membuat layang-layang dilanjutkan. Yang belum selesai kemarin, hari ini melanjutkan pembuatan layang-layang. Ternyata masih ada yang membuat kerangka. Karena layang-layang kemarin GATOT alias Gagal Total. Alhasil, mereka harus membuat kembali, agar layang-layangnya bisa diterbangkan di lapangan Blang Padang sore nanti. Ada pula yang tidak puas dengan bentuk yang dibuatnya, sehingga saat melihat layang-layang teman yang lain, timbul ide kreatif baru untuk membuat dengan bentuk yang lebih menarik.
Saat yang lain sibuk memikirkan bentuk layang-layangnya, sebagian lagi melakukan pemanasan di lapangan Blang Cut, depan kantor. Tinggi, terbanglah tinggi… begitu teriak mereka. Layang- layang Raja terbang rendah sebelum akhirnya menukik tajam menghantam tanah. Huahahaha… Tampaknya badan layang-layang terlalu berat, hingga tidak mampu terbang tinggi.
Sedangkan layang-layang milik Ikhsan terbang tinggi meliuk dipermainkan angin terus tinggi… dan tus! Putus! Ikhsan sejenak terdiam memandang sedih layang-layang miliknya. Tidak tinggal diam, secepat kilat Ikhsan kembali membuat layang-layang untuk diterbangkan sore ini.
Di sudut lain di Garasi, masih banyak yang sibuk dengan bambu, kertas dan berbagai ide untuk dituangkan menjadi bentuk layang-layang yang menarik. Tak lama, Pak Anno berseru untuk segera berangkat menuju lapangan Blang Padang. Panik! Yang belum selesai segera menyelesaikan dengan terburu-buru, beberapa anak terlihat pasrah, ikut ke Blang Padang tanpa bisa membanggakan layang-layang miliknya.
Tiba di Blang Padang, anak-anak yang memiliki layang-layang dengan bangga mengeluarkan dan bersiap-siap menerbangkan layang-nya, sedangkan yang lain hanya bisa memotivasi dan memberi dukungan kepada teman-temannya.
Wus! Dengan dibantu teman yang lain layang-layang Satria D melesat cepat, meliuk ditiup angin dan terbang tinggi dibawa angin. Disamping Satria, Ikhsan dengan bangga melepas layang-layang darurat miliknya. Darurat, karena layang-layang yang diterbangkannya ini dibuat secara buru-buru sebelunm berangkat. Bentuknya seperti cumi-cumi, sehingga teman-teman memberi judul layang-layang Ikhsan adalah layang-layang cumi-cumi. Mulia dan Saleh tidak tinggal diam, dengan bangga, layang-layang mereka menari, meliuk dipermainkan angina dan terbang tinggi menyusul layang-layang yang lain.
“Tarik-tarik… kurang jauh… terus… terus…” samar-samar terdengar teriakan anak-anak… Tampak di kejauhan beberapa anak sibuk membantu temannya yang lain membatu menerbangkan layang-layang. “Asik… berhasil…” terdengar teriakan selanjutnya. Tak lama-layang-layang itu berbalik arah menukik tajam menghantam tanah dengan sangat buruknya. “Huahahahahaha…..” tawa menggema, menertawai layang-layang yang GATOT terbang! Usaha terus dilakukan. Tawa, teriakan-teriakan dan ledekan-ledekan, mewarnai sore layang-layang kami. Rame banget! Alhasil kami sempat jadi pusat perhatian orang-orang di sekitar Blang Padang
Heboh? Pasti! Seru? Tentunya! Bukan anak SOS DESA TARUNA kalo nggak heboh… Sore ini begitu ceria, lain waktu kami akan membuat layang-layang yang lebih indah, yang menari dengan cantik ditiup angin, yang dapat terbang tinggi setinggi bintang di langit.
(BANTENG)

















FARMING TOUR

Dalam mengisi liburan sekolah tahun ajaran 2006-2007, tepat pada hari Rabu, tanggal 17-21 Januari 2007, kami keluarga besar SOS Desa Taruna Banda Aceh mengadakan kegiatan “Farming Tour” di BLPP (Balai Latihan dan Penyuluhan Pertanian) Saree, Kab. Aceh Besar. Sebuah tempat yang cukup sejuk, tenang dan nyaman, apalagi dalam perjalanan menuju ketempat tersebut, kami sempat melihat banyak monyet bergelantungan di sepanjang jalan menuju kaki Gunung Seulawah.
Sebelum kami menuju kesana, kami sempat mengisi liburan sekolah ini dengan kegiatan belajar membuat boneka dan anyaman rotan selama 2 hari. Kami semua betul-betul menikmati liburan, kami belajar, bermain dan tertawa-tawa, kami semua senang dan bahagia. Inilah ceritanya:
Pada hari Rabu dan Kamis tanggal 17-18 Januari 2007, kegiatan membuat boneka dan anyaman rotan dimulai. Belajar membuat boneka bertempat di Panterik, dan belajar mengayam rotan bertempat di Lembah Hijau. Yang mengajar membuat boneka adalah ibu-ibu SOS, seperti ibu Eva, ibu Ida, ibu Lia, ibu Aini, dan ibu Ema. Sedangkan pesertanya adalah semua anak perempuan. Kemudian yang mengajar anyaman rotan yaitu bapak Rajali (seorang pengrajin anyaman rotan yang mempunyai toko kerajinan rotan didaerah Pagar Air). Pesertanya adalah semua anak laki-laki.
Kegiatan anyaman rotan dimulai pukul 09.00 sampai pukul 12.00. Istirahat pukul 12.00 sampai pukul 14.00. Kemudian acara dilanjutkan lagi pukul 14.00 sampai pukul 16.00. “Pertama aku bingung, salahhh terus.., tapi setelah diajari bapak Rajali akhirnya aku bisa dan akupun langsung membuat dua buah, yang satu kecil untuk tempat sabun dan yang satu besar untuk tempat cabe”, begitu cerita Mulia bersemangat.
Sedangkan kegiatan membuat boneka dimulai pukul 11.00. Istirahat pukul 13.00 sampai pukul 14.00. Kemudian acara dilanjutkan lagi pukul 14.00 sampai pukul 16.00. “Pertama memang nggak bisa, abis itu diajari sama ibu Ida, terus aku jadi pandai membuat boneka kura-kura dan kupu-kupu. Susahnya sewaktu menjahit, aku nggak bisa, tapi pelan-pelan akhirnya aku jadi bisa” begitu cerita Mida. “Tadi sore, aku buat boneka ikan sendirian saja”, tambahnya.
Setelah berakhir kegiatan belajar membuat boneka dan anyaman rotan, kami semua sibuk menyiapkan semua peralatan dan perlengkapan untuk acara selanjutnya, yaitu “farming tour” di BLPP Saree.
Pada hari Jum’at tanggal 19 Januari 2007, tepat pukul 08.00 kami sudah siap berkumpul di kantor. Lima menit kemudian, bis yang dipinjam dari IAIN Ar-Raniry yang akan mengantarkan kami ke tempat tujuan sudah tiba. Kamipun segera membawa tas, ransel, tikar, dan barang yang lainnya keatas bis.
Kami tak sabar bertanya, “Pak Anno, kenapa bis-nya nggak berangkat juga, kami sudah lama menunggu?”. “Iya betul, tapi kita masih menunggu teman kita yang lain, bersabarlah..!” jawab pak Anno. Beberapa saat kemudian teman-teman kamipun tiba, mereka langsung bergegas menuju bis, pada saat inilah suasana jadi ramai dan ribut sekali oleh suara anak-anak yang ingin lebih dahulu mendapatkan posisi tempat duduk yang nyaman. Ada anak yang ingin duduk di barisan depan, ada anak yang suka duduk di kursi belakang, dan ada juga yang selalu ingin didekat jendela.
Suasana kemudian berlangsung hening dan tenang tatkala kami semua berdo’a kepada Sang Pencipta untuk memohon keselamatan dan perlindungan. Akhirnya, tepat pukul 10.00, bis yang kami naiki mulai berangkat meninggalkan kota Banda Aceh menuju ke BLPP Saree, Aceh Besar. Sedangkan jumlah peserta mencapai 42 orang yang terdiri dari 27 anak-anak, 8 orang ibu, dan 7 orang karyawan.
Kami tiba di BLPP Saree pada pukul 11.30 Wib. Kemudian kamipun langsung mendekati secarik kertas yang menempel dipintu kamar masing-masing. Dalam kertas tersebut, nama-nama kami sudah tertulis dan terbagi ke dalam 4 kelompok.
Setelah kami menyimpan semua perlengkapan di kamar masing-masing, kami segera makan siang, dan setelah itu kami yang laki-laki harus berjalan 200 meter untuk pergi ke mesjid melakukan sholat Jum’at.
Beberapa saat kemudian, kamipun berbaris menurut masing-masing kelompoknya. Acara dibuka dengan sangat singkat oleh Pak Anno yang mengingatkan kami pada 3 hal, yaitu; 1) harap mengikuti semua kegiatan dengan baik, gunakan kesempatan yang berharga ini untuk menambah ilmu. 2) susunan acara selama kami berkegiatan di BLPP Saree. 3) pada waktu kami makan, kami harus selalu ingat bahwa masih ada teman kami yang belum makan.
Sekarang kami sudah terbagi 4 kelompok, kami sudah siap untuk mengikuti game-game yang akan diberikan selama dalam perjalanan untuk pengenalan tempat mengitari BLPP (Balai Latihan dan Penyuluhan Pertanian) dan melewati BBI (Balai Benih Induk) yang berjarak kurang lebih 1 kilometer. Kelompok 1 didampingi oleh Kak Citra, kelompok 2 didampingi oleh Kak Rika, kelompok 3 didampingi oleh Pak Irwan dan kelompok 4 didampingi oleh Mas Banteng.
Setelah kami diberi pengarahan oleh Mas Banteng tentang game-game tersebut, akhirnya berangkatlah kelompok 1 dan 2 ke sebelah timur, sedangkan kelompok 3 dan 4 ke arah barat. Adapun game-game yang kami ikuti adalah; menjinakan bom, memindahkan balon, menyatu dalam sarung, boat dalam sungai dan jaring laba-laba. Apabila kami dapat menyelesaikan satu game maka kami boleh mengambil bendera sebanyak-banyaknya. Jadi, apabila ada kelompok yang dapat mengambil bendera dalam jumlah yang banyak maka merekalah pemenangnya. “Sewaktu melewati rintangan yang pertama, kami agak sulit melewatinya, kami harus terbang seperti superman”, kata Satria Eka Sakti.
Acara selesai pada pukul 18.00 wib, kamipun beristirahat sebentar lalu bergegas untuk mandi sore. Baju kami kotor dan basah, badan kami lemas dan bau keringat, namun api semangat masih menyala dalam jiwa kami.
Tepat pukul 19.00 wib, kami sholat maghrib berjamaah di meunasah. Kami bertanya dalam hati, mengapa meunasahnya kosong tidak ada orang? Baru setelah rakaat kedua, masuklah seorang bapak kedalam shaf. Setelah selesai sholat Maghrib, nampak Pak Anno dan bapak tadi terlibat pembicaraan. Tak lama kemudian, kami mendapat informasi bahwa bapak yang masuk ditengah rakaat kedua tersebut adalah pengurus meunasah dan sering menjadi imam.
Kami semua betul-betul menikmati makan malam, kami puas dengan menu makanan dan snack-nya. Setelah makan malam, kami semua termasuk ibu dan karyawan berkumpul di ruangan aula BLPP untuk mengikuti acara selanjutnya yaitu, “bermain peran”. Tiap-tiap kelompok tampil ke depan satu persatu untuk memainkan peran. Ada yang berperan menjadi Ibu SOS, Bapak SOS, Anak Balita, Guru, Murid, Pedagang, Pembeli dan sebagainya. Kamipun belajar ber-empati kepada teman kami penyandang cacat seperti Abdurahman dan Sandi yang memerankan tuna netra, Yovan dan Sayuti yang memerankan tuna wicara, Satria yang memerankan tuna rungu dan Raja yang memerankan penderita lumpuh kaki. Kami mencoba belajar merasakan apa yang mereka (penyandang cacat) rasakan. Kami semua bersyukur atas semua pemberianNya, kami diberi kelengkapan, kesehatan, dan kebahagiaan.
“Permainan orang buta, orang bisu dan orang tidak bisa mendengar, mereka bertiga kekurangan indra, mereka sangat persis kayak di sinetron”, kata Lisa. Memang seni peran kami adalah seni peran amatir, tetapi kami hanya mempunyai ‘kepolosan’ dalam berpikir dan bertindak, sehingga semua penonton tertawa terbahak-bahak melihat peran kami yang begitu sangat polos. “Saat mereka tampil kedepan, mereka sangat lucu sekali, saya tertawa sampai mengeluarkan air mata”, ungkap Heru.
Acara ini selesai pada pukul 22.00 wib. Selama 2 jam tersebut kami sudah dihibur oleh teman-teman kami sendiri. Ternyata mereka pandai mengocok perut kami. Suasana di aula menjadi riuh gelak tawa, pada malam itu kami betul-betul tidak ingin meninggalkan ruangan aula, namun apadaya, besok pagi kami harus bangun pagi.
Pagi hari pukul 08.00 wib, kami berkumpul didepan halaman BLPP untuk berolahraga ‘senam pagi’ bersama Pak Anno. Namun, baru beberapa gerakan saja tiba-tiba hujan turun. Akhirnya kami semua berteduh didepan kamar masing-masing, baru setelah hujan berhenti senampun dilanjutkan kembali. Namun ternyata, baru beberapa menit hujan turun lagi sehingga senam pagi berhenti untuk kedua kalinya
Hujan akhirnya reda pukul 10.00 wib, kami melanjutkan acara kunjungan ke BBI untuk belajar okulasi tanaman. “Nanti kalian akan diajarkan cara menyambung batang pohon (stek) dan cangkok”, begitu kata Pak Ismanto (salah seorang pegawai BBI yang mengajari kami). Kegiatan ini bukan yang mudah kami pelajari, ini sebuah pengalaman baru buat kami. “Pekerjaan yang sulit adalah sewaktu memotong tangkai pohon durian untuk di-stek” kata Nova. Selain itu kamipun diperbolehkan oleh Pak Al (pegawai BLPP) untuk melihat-lihat tempat pembibitan bahkan diajak masuk kedalam green house.
Setelah makan siang dan sholat Dhuhur, kami melanjutkan pelajaran menanam pohon jagung mulai pukul 14.30 sampai pukul 17.00 wib. Yang mengajari kami adalah Bapak Sarna, dia adalah salah seorang pekerja lapangan BLPP. Kami mendengarkan semua pelajaran yang diberikan olehnya, termasuk diperlihatkan kepada kami beberapa contoh bibit jagung biasa dan jagung manis, bibit cabe, bibit tomat, bibit pepaya, dan bibit-bibit yang lainnya.
Begitu acara menanam jagung selesai selama kurang lebih satu jam, kami semua diajak Pak Al pergi ke kebun ubi. Kami senang ketika diperbolehkan untuk membawa ubi yang sudah besar untuk dibawa pulang kerumah. Maka kamipun segera panen ubi, ada yang membawa ubi banyak sekali dimasukkan kedalam kantong plastik, ada juga yang dimasukkan kedalam bajunya, padahal baju tersebut sudah pasti terkena getahnya. Bahkan kamipun diperbolehkan juga untuk membawa buah sawo dan pepaya.
Selepas sholat maghrib dan makan malam, kami semua berkumpul dihalaman samping untuk mengikuti acara selanjutnya yaitu ‘api unggun’. Pukul 21.00 wib, kayu-kayu kering sudah disusun untuk mulai dinyalakan. Tetapi tiba-tiba gerimis datang tak diundang, kami kesulitan menyalakan apinya. “Detik demi detik, menit demi menit api belum menyala, kayu belum terbakar, mungkin kayunya basah!”, seru Ulfa. Namun kemudian salah satu ibu SOS, yaitu ibu Nuraini menghampiri tumpukan kayu tersebut sampil membawa daun-daun kelapa yang sudah kering, dilipat-lipat dan terus dimasukan kedalam celah-celah kayu tersebut. Beberapa saat kemudian, api mulai menyala, semakin lama semakin membesar. Kamipun semua senang melihat api sudah menyala, kami sangat berterimakasih kepada ibu Nuraini.
Acara dimulai dan dibuka dengan do’a tepat pukul 21.30 wib. Selanjutnya Pak Anno menyampaikan pesan-pesannya kepada kami sehubungan malam tersebut bertepatan dengan malam tahun baru Hijriyah, yaitu tahun baru kaum muslim diseluruh dunia. Tak lupa membagikan hadiah kepada para kelompok pemenang.
Kemudian acara dilanjutkan oleh Pak Irwan dan Mas Banteng untuk mendampingi kami dalam mengisi kegiatan dengan penampilan bernyanyi bersama, berpidato, bersuka ria dalam gerak dan lagu. Kamipun harus maju kedepan satu persatu untuk mengucapkan harapan-harapannya menjelang tahun baru. “Saya akan bersungguh-sungguh belajar, karena cita-cita saya menjadi ‘sebuah ustadz!” teriak Sayuti dengan suara lantangnya menggema keseluruh pelosok kaki gunung Seulawah. Mendengar apa yang dikatakan tersebut kami semua tertawa terbahak-bahak, karena seharusnya berkata ‘seorang ustadz’ bukan ‘sebuah ustadz’. “Saya akan giat belajar dan berolahraga, karena cita-cita saya menjadi seorang E-U!”, seru Rahmat dengan mantapnya. Kami sempat berpikir lama, kemudian setelah itu kami semua tertawa terbahak-bahak untuk yang kedua kalinya, karena ‘E-U’ itu maksudnya ‘AU’ yaitu Angkatan Udara.
Acara selesai ditutup dengan do’a tepat pukul 23.00 wib. “Pada hari Minggu pagi, kami semua sudah berkemas-kemas untuk pulang, kami semua merasa sangat senang, tapi kenapa begitu cepat masa-masa indah seperti ini berlalu”, seru Yuni yang matanya nampak berkaca-kaca. (ANNO)

“WE WILL …WE WILL LOVE YOU”


PELETAKAN BATU PERTAMA “SOS DESA TARUNA BANDA ACEH"

Pada hari Selasa, tanggal 29 Agustus 2006, tim kerja SOS Desa Taruna Indonesia di Banda Aceh, dibawah koordinasi Pak Anno mengadakan kegiatan acara Peletakan Batu Pertama Pembangunan “SOS Desa Taruna Banda Aceh”.
Tepat pukul 14.00 WIB atau jam dua siang, acara dimulai dengan Pembacaan Susunan Acara oleh Mbak Citra sebagai MC. Setelah itu dilanjutkan dengan Pembacaan Ayat Suci Al-Qur’an yang dilantunkan dengan khidmat oleh Sdr. Maimun. Beliau adalah salah seorang penduduk di Desa Lamreung.
Sebelum memasuki acara pokok, ditampilkan persembahan hiburan dari anak-anak SOS Desa Taruna Banda Aceh berupa tarian “Ranup Lampuan”. Anak-anak yang menari adalah para remaja putri, yaitu Ulfa, Yuni, Fitri, Yusnidar, dan Yana. Mereka menari dengan percaya diri, tidak malu-malu, dan gembira. Tarian ini adalah tarian yang dikhususkan untuk menyambut para tamu undangan. Semua penari membawa ‘ranup’ (=sirih) yang tersimpan dalam sebuah ‘puan’ (=semacam mangkuk yang terbuat dari kuningan yang berfungsi sebagai tempat menyimpan sirih). Selesai menari, sirih-sirih tersebut disuguhkan kepada para tamu undangan untuk dimakan. Para tamu-pun mengambil sirih tersebut untuk dimakan, kemudian sebagian dari para tamu memberi uang ‘sawer’ kepada para penari. Anak-anak yang menari sangat senang sekali, terutama Fitri yang selalu tersenyum lebar karena mendapat ‘sawer’ paling banyak.
Acara selanjutnya diteruskan dengan pembacaan sambutan, yang dimulai oleh Bapak Di Mahmudi (Kepala Kemukiman Lamreung, yang membawahi 5 desa termasuk Desa Lamreung). Beliau sangat senang sekali dan mendukung keberadaan pembangunan SOS Desa Taruna Banda Aceh di wilayahnya.
Sambutan yang kedua disampaikan oleh Bapak Bupati Aceh Besar yang diwakili oleh Asisten II, yaitu Bapak Ridwan. Beliau juga sangat senang sekali dengan keberadaan SOS Desa Taruna yang sudah membantu meringankan beban anak-anak, baik yang korban Tsunami ataupun korban konflik.
Sambutan yang ketiga disampaikan oleh Ketua Yayasan SOS Desa Taruna Indonesia, yaitu Bapak Yusuf Gunawan. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan misi dan visi dari SOS Desa Taruna Indonesia, khususnya tentang keberadaan SOS Desa Taruna di Banda Aceh.
Sambutan yang keempat disampaikan oleh Pimpinan SOS Desa Taruna Indonesia, yaitu Bapak Hadiyanto Nitihardjo. Beliau menyampaikan ucapan terimakasih kepada masyarakat Desa Lamreung yang sudah menerima dengan terbuka dan membantu pendirian SOS Desa Taruna Banda Aceh. Tidak lupa, beliau juga menyampaikan ucapan terimakasih kepada Bapak Mukim, Bapak Camat, Bapak Bupati, dan Bapak Gubernur yang diwakili oleh Bapak Kepala Dinas Sosial TK I NAD yang sudah mendukung dan banyak membantu dalam proses pembagunan SOS Desa Taruna Banda Aceh.
Sambutan terakhir disampaikan oleh Pj. Gubernur NAD, yaitu Bapak Dr. Mustafa Abubakar. Namun pada saat tersebut, beliau berhalangan hadir dan diwakilkan kepada Kepala Dinas Sosial TK I NAD, yaitu Bapak Drs. Hanif Asmara. Dalam sambutannya, beliau menyatakan perasaannya sangat senang sekali dengan keberadaan SOS Desa Taruna yang sudah membantu meringankan beban penderitaan anak-anak di NAD. Beliau berharap, kelak anak-anak yang akan diasuh oleh SOS Desa Taruna Banda Aceh harus dibesarkan dan dididik dalam Budaya Aceh dengan lingkungan dan pendidikan yang Islami. Dengan demikian anak-anak SOS Desa Taruna di Nanggroe Aceh Darussalam dapat berkembang sesuai dengan budaya lingkungannya yang bernafaskan Islam.
Acara kemudian diteruskan dengan hiburan dari anak-anak SOS Desa Taruna Banda Aceh yaitu tarian “Bungong Seulanga”, yaitu sebuah tarian yang menggambarkan suasana anak-anak yang sedang bersuka cita dan bergembira pada saat mereka sedang memetik bunga Seulanga. Adapun anak-anak yang menari tersebut adalah Yana, Muna, Mistahul Jannah, Khalida Zia, dan Ramadhani. Kelima anak tersebut sangat senang dapat tampil dalam acara ini, mereka tidak malu-malu serta menari sambil tersenyum-senyum. Adapun yang melatih kedua tarian anak-anak tersebut adalah Ibu Rosmalia.
Berikutnya, tibalah pada acara puncak, yaitu acara peletakan batu pertama yang akan dilakukan oleh Kepala Dinas Sosial TK I NAD, Bapak Drs. Hanif Asmara. Acara tersebut tidak langsung dilaksanakan, tetapi terlebih dahulu diiringi dengan Kabaret (=gerak dan lagu).
Kabaret yang ditampilkan untuk mengiringi acara peletakan batu pertama ini adalah menceritakan perjalanan sejarah berdirinya SOS Kinderdorf di Kota Imst sampai pendirian SOS Desa Taruna di Banda Aceh. Kabaret ini melibatkan hampir semua anak-anak yaitu sebanyak 28 anak, sedangkan 3 anak lagi tidak ikut karena masih kecil. Sedangkan yang mempersiapkan rekaman musik, narasi dan latihannya adalah Mas Banteng dan Mbak Citra.
Adegan pertama adalah munculnya delapan anak sambil membawa senapan dan bazoka untuk menggambarkan suasana berperang dalam sejarah Perang Dunia ke-2 di Eropa. Peperangan tersebut banyak memakan korban jiwa. Anak-anak menangisi kepergian ayahnya, para ibu berduka menangisi kepergian suaminya. Dalam keadaan seperti itu, munculah sosok Bapak Herman Gmeiner sebagai seorang dokter yang ikut membantu para korban perang tersebut. Sosok Bapak Herman Gmeiner ini diperankan oleh Rahmat yang wajahnya ditutup dengan topeng foto Bapak Herman Gmeiner sambil berjalan-jalan diantara korban perang yang meninggal dunia.
Berikutnya masuklah beberapa anak yang melakukan gerakan-gerakan yang menggambarkan tentang proses pendirian SOS Kinderdorf di kota Imst, Austria. Dikisahkan Bapak Herman Gmeiner sedang merekrut beberapa ibu pengasuh dan anak-anak. Ada peran bapak, ada peran ibu, dan ada anak-anak yang pada saat itu semuanya sedang bermain, bergembira dalam kehangatan sebuah keluarga di SOS Kinderdorf. Ada yang bermain hom pim pa, slep duur, ada ibu yang sedang mendongeng, ada juga yang sedang berbaris-baris sambil mengibarkan bendera SOS Kinderdorf dan bendera beberapa negara anggota SOS Kinderdorf.
Selanjutnya muncul beberapa anak sambil berjalan berbaris untuk menggambarkan proses pendirian SOS Desa Taruna di Lembang, Indonesia. Dikisahkan Bapak Agus Prawoto yang diperankan oleh Heru sambil memakai topeng foto beliau sedang merekrut beberapa ibu pengasuh, pembina dan anak-anak. Bapak Agus Prawoto inilah sebagai pendiri SOS Desa Taruna di Indonesia dan menyebarkannya ke beberapa kota. Beberapa anak berjalan sambil membawa kertas karton yang bertulisankan “SOS Desa Taruna Lembang”, “SOS Desa Taruna Jakarta”, “SOS Desa Taruna Semarang”, “SOS Desa Taruna Bali”, dan “SOS Desa Taruna Flores”.
Adegan selanjutnya beberapa anak datang berjalan sambil berbaris, kemudian berlari-lari pelan hingga berlari-lari kencang. Adegan keempat ini menceritakan peristiwa tanggal 26 Desember 2004, yaitu Gempa dan Gelombang Tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam. Suara gelombang air laut begitu keras terdengar dari loud speaker. Semua penonton dengan serius memperhatikan gerakan anak-anak sedang berlari-larian tersebut, sambil mengacung-acungkan kedua-tangannya keatas lalu bergerak kekiri dan kekanan sambil memegang pom-pom yang terbuat dari tali rafia berwarna biru dan putih. Mereka sedang menggambarkan gelombang air laut yang sedang mengamuk menghancurkan semua benda dan makhluk yang ada.
Beberapa saat kemudian, tidak ada suara terdengar lagi, semua anak-anak meninggalkan pentas dan penonton terdiam. Pada saat tersebut, datanglah seorang anak bernama Sandi yang memerankan tokoh Pak Hadi, wajah Sandi ditutup dengan topeng foto Pak Hadi. Diikuti Satria yang memerankan Pak Trisno, wajah Satria ditutup dengan topeng foto Pak trisno, dan terakhir Abdurahman memerankan Pak Anno, wajah Abdurahman ditutup juga dengan topeng foto Pak Anno.
Semua yang menyaksikan gerakan ketiga anak tersebut tidak dapat menahan tawanya. Bapak-bapak, ibu-ibu, dan anak-anak, pokoknya semua yang melihat gerakan ketiga anak tersebut spontan tertawa dengan kencang dan puas. Disamping gerakan kakinya yang kaku dan lucu juga iringan musik suara drum-nya sangat pas dengan gerakan kakinya tersebut, hanya saja syairnya yang harus dirubah satu kata saja menjadi; ‘we will.. we will love you’ bukan ‘we will... we will rock you’, meskipun mungkin ada betulnya di waktu dulu ketiga bapak ini menyukai musik rock.
Diceritakan bahwa ketiga bapak tersebut adalah yang merencanakan program kegiatan SOS Desa Taruna Indonesia di Nanggroe Aceh Darussalam. Dikisahkan Pak Anno yang diperankan oleh Abdurahman sedang merekrut beberapa karyawan dan ibu pengasuh yang dilanjutkan dengan mengadakan training kepada para ibu tersebut. Dikisahkan juga beberapa ibu yang sedang bermain bersama anak-anak dalam keadaan suasana gembira, menari-nari, berjoged, berolahraga serta sedang melakukan beberapa kegiatan belajar dan mengaji. Semua peran tersebut adalah untuk menggambarkan persiapan berdirinya SOS Desa Taruna di Banda Aceh.
Tak lama kemudian, munculnya beberapa anak yang memakai kacamata hitam dengan memakai topi proyek berwarna kuning. Mereka sedang menceritakan kedatangan Tim Pembangunan ke Nanggroe Aceh Darussalam untuk merealisasikan program SOS Desa Taruna Indonesia yaitu untuk membangun sebuah SOS Desa Taruna di kota Banda Aceh.
Setelah semua gerakan anak-anak dan musik terhenti, akhirnya MC membacakan urutan nama yang akan meletakan batu pertama pembangunan SOS Desa Taruna Banda Aceh. Selubung papan nama proyek pembangunan sudah dibuka oleh Bapak Drs. Hanif Asmara (Kepala Dinas Sosial TK I NAD), kemudian dilanjutkan dengan peletakan batu pertama oleh beliau. Peletakan batu untuk yang berikutnya adalah Bapak Hadiyanto (Pimpinan SOS Desa Taruna Indonesia), Bapak Ridwan (Asisten 2 Bupati Aceh Besar), Bapak Camat Darul Imarah, Bapak Di Mahmudi (Kepala Mukim Lamreung), Bapak Yusuf Gunawan (Ketua Yayasan SOS Desa Taruna Indonesia), dan Ibu Sawitri Supardi Sadarjoen (Ketua Dewan Pengawas Yayasan SOS Desa Taruna Indonesia).
Bapak Hanif Asmara sempat tercengang-cengang sewaktu Pak Hadi menerangkan gambar-gambar bangunan yang akan didirikan secara lengkap dan detail.
Perlu diinformasikan juga bahwa kegiatan ini telah diliput oleh TVRI Stasiun Banda Aceh. Wawancara reporter TVRI Stasiun Banda Aceh dengan Bapak Hanif Asmara dan Bapak Hadiyanto merupakan klimaks dan akhir dari acara ini. Tepat Pukul 16.00 WIB acara peletakan batu pertama “SOS Desa Taruna Banda Aceh” selesai.
Acara peletakan batu pertama ini dihadiri oleh para ibu SOS, yaitu Ibu Sakdiah, Ibu Emma, Ibu Rosmani, Ibu Rosmalia, Ibu Nuraini dari Meulaboh, Ibu Nuraini dari Jantho, Ibu Mardalena. Semua ibu-ibu inilah yang selalu mendampingi anak-anaknya dengan sabar dalam semua kegiatan persiapan dari awal hingga akhir. Sebagian dari Ibu Pengasuh tidak dapat hadir karena sedang training di Bandung, yaitu Ibu Eva, Ibu Murni, Ibu Zahra, Ibu Ida, dan Ibu Fadhilah. Yang bertugas sebagai penerima tamu adalah Kak Rika dan Ibu Risma, sedangkan yang sibuk dengan urusan transportasi adalah Pak Irwan dan Bang Joni.
Ikut juga hadir dalam mensukseskan acara ini adalah teman-teman dari SOS Desa Taruna Meulaboh, yaitu Pak Yudi (Koordinator), Pak Teguh (Pengawas Pembangunan), dan Bang Mumun.
Bantuan yang turut mensukseskan acara ini datang juga dari kontraktor PT Median Cipta Graha dan masyarakat Desa Lamreung. Akhir kata, segenap Keluarga Besar SOS Desa Taruna Banda Aceh mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu yang telah membantu terlaksananya acara peletakan batu pertama tersebut.
Sekian dan terimakasih! Wassalam! (ANNO)

RASA TAKUT ITU TELAH PERGI........

NAIK GAJAH SUMATERA

Pada hari Minggu, tanggal 11 Juni 2006, kami keluarga besar SOS Desa Taruna Banda Aceh mengadakan kegiatan rekreasi ke Pantai Rawa di Kota Sigli (termasuk Kabupaten Pidie) dan Taman Gajah di Saree, Aceh Besar (dikaki Gunung Seulawah) dalam rangka liburan sekolah. Semua anak-anak menyambut dengan senang rekreasi liburan sekolah ini karena dapat melepaskan rasa bosan yang sudah beberapa bulan bergelut dengan rutinitas belajar, ujian, les, pertemuan remaja, latihan Tae Kwon Do, Pencak Silat, Menari, dll.
Menjelang keberangkatan, semua ibu-ibu sibuk memasak untuk bekal makan siang anak-anak. Sedangkan para bapak-bapak mempersiapkan semua perlengkapan mulai dari tenda, gitar, tikar, dll.
Kegiatan ini didampingi oleh bapak-bapak, yaitu; Pak Anno, Pak Irwan, Mas Banteng. Dan juga ibu-ibu, yaitu ; Bu Sakdiah, Bu Emma, Bu Rosmani, Bu Dian, Bu Lia, Bu Nuraini J, Bu Lena, Bu Murni, Bu Siti, Bu Nuraini P, dan Bu Zahra. Sedangkan dari karyawan yaitu; Rika, dan Bang Joni. Adapun anak-anak yang ikut, yaitu Satria D, Yuni, Ulfa, Fitri, Abdurahman, Rahmat, Yovan, Heru, Satria ES, Ikhsan, Agustin, Asakir, Mona, Dewi, Nurul, dan si kecil Nadia.
Tepat jam 08.00, sebelum berangkat dari rumah, Pak Anno memimpin do’a untuk memohon kepada Allah SWT agar diberi perlindungan dan kekuatan selama dalam perjalanan dari awal hingga akhir. Dalam perjalanan tersebut, kami menyewa satu buah bis dari Kampus IAIN Ar Raniry dengan kapasitas 30 orang.
Perjalanan dari Banda Aceh ke Pantai Rawa, Sigli memakan waktu kurang lebih 3 jam melewati pemandangan hutan lindung yang indah dan masih banyak terdapat monyet dan babi hutan yang turun ke jalan. Tepat pukul 11, kami tiba di tujuan. Kemudian kami memasang 2 buah tenda untuk berteduh karena pada waktu itu sinar matahari sangat terasa panas sekali. Mas Banteng, Pak Irwan, Bang Joni bersama anak-anak segera menyelesaikan pemasangan tenda tersebut. Lalu ibu-ibu segera menggelar tikar untuk alas tempat duduk sambil menyiapkan makan siang.
Rencana semula untuk ber “GAME-ria” tidak dapat dilaksanakan karena air laut sedang pasang sehingga tidak ada tempat lagi, semua di penuhi air. Akhirnya kami semua langsung membuka semua perbekalan yang sudah disiapkan ibu-ibu. Kami semua makan siang bersama. Beberapa saat setelah makan siang, ternyata air laut mulai surut, dan nampak sedikit daratan. Akhirnya anak-anak bermain bola di pantai dan setelah itu berenang.
Semua anak-anak terlihat senang dan gembira. Tepat pukul 14.30 kami semua berkemas-kemas untuk segera melanjutkan perjalanan ke Taman Gajah, Saree. Bis yang membawa anak-anak dan ibu-ibu berangkat terlebih dahulu, sedangkan Pak Anno menyusul kemudian karena akan mengisi bensin.
Tepat jam 17.00, kami sampai di Taman Gajah Saree, sedangkan anak-anak dan ibu-ibu sudah tiba lebih awal sedang berteduh di mushola karena turun hujan. Akhirnya kami semua berteduh di mushola tersebut sambil menunggu reda. Ketika sudah reda, kami menghubungi pawang gajah untuk meminta agar anak-anak bisa naik gajah tersebut, karena anak-anak sangat ingin sekali naik gajah.
Akhirnya tibalah giliran anak-anak menaiki gajah, ada yang malu-malu, ada yang ketakutan, dan ada yang ragu-ragu. Akan tetapi setelah mereka merasakan naik gajah, rasa malu dan takut tersebut menjadi hilang, semua anak-anak berani dan tidak malu untuk naik gajah, malah ingin naik gajah dua kali, termasuk Nadia yang masih berumur 1,5 tahun.
Setelah semua mendapat giliran naik gajah, akhirnya kami semua bergegas pulang kerumah. Sampai di rumah tepat pukul 19.00, semuanya tiba dengan selamat, dan kami bersyukur atas kegiatan yang sudah berjalan lancar tersebut. (Anno, 11-06-06)

Selasa, 01 April 2008

PERINGATAN HARI AIR DI TAMANSARI – BANDA ACEH

“Asik… asik…” kita ke Tamansari ya Kak… trus kita ngapain? Disana ada apa aja?
Asik-asik…” seruan-seruan heboh anak-anak yang akan mengikuti kegiatan memperingati hari air sedunia yang diadakan oleh ESP (Environmental Support Program) dan HONOBONO, rumah belajar tempat kami belajar kreativitas tiap hari rabu dan kamis sore.
Pukul 14.30, kami tiba disana. Sore ini, kegiatan diikuti oleh 14 anak-anak SOS DESA TARUNA dan 1 orang Ibu yakni Ibu Ida Riyani. Wow! Keren sekali. Ada pameran foto, pameran lukisan dan ada kakak-kakak HONOBONO yang menyambut dengan ceria. Ternyata kegiatan yang akan diikuti oleh kami berupa kreatifitas membuat stiker nama. Untuk kali ini, anak-anak laki-laki boleh ikut. Biasanya kegiatan kreatifitas ini hanya diikuti oleh anak-anak perempuan.
Sebelum membuat stiker, kami diperbolehkan bermain berbagai macam permainan yang ada di Taman Sari, melihat pameran lukisan dan foto. Puas bermain, kegiatan dilanjutkan dengan membuat kreatifitas. Anak-anak terlihat tekun dan asik dengan peralatan di tangan mereka. Seruan-
seruan lucu selalu mewarnai mereka disela-sela kesibukan jari yang menggunting dan mata yang jeli memilih warna stiker.
Ibu Ida tidak kalah seru. Sambil membimbing anak-anak, Ibu Ida juga ikut membuat stiker namanya. Pilihan warna, hiasan-hiasan dan bentuk yang unik dan lucu adalah bagian dari kreativitas sore ini. Kak Ros, Kak Etty, dan Kak Javla dari Rumah Belajar HONOBONO dengan sabar mendampingi anak-anak membuat stiker yang indah dan menarik. Dengan bangga, setiap anak membentuk namanya, bahkan ada yang dengan sayangnya membuatkan untuk adik mereka tercinta.
Waktu berjalan tanpa terasa. Sore menjelang. Kegiatan berakhir. Di tangan anak-anak tergenggam stiker nama-nama milik mereka yang dengan bangga dipamerkan. Sebelum pulang, kami puaskan untuk bermain kembali. Setelah itu foto bersama sebagai kenang-kenangan.
Heboh? Pasti! Seru? Tentunya! Bukan anak SOS DESA TARUNA namanya kalo nggak heboh…! Capek tidak lagi dirasakan anak-anak. Sore ini adalah sore yang bahagia untuk kami, anak-anak SOS DESA TARUNA.
BANTENG