PELETAKAN BATU PERTAMA “SOS DESA TARUNA BANDA ACEH"
Pada hari Selasa, tanggal 29 Agustus 2006, tim kerja SOS Desa Taruna Indonesia di Banda Aceh, dibawah koordinasi Pak Anno mengadakan kegiatan acara Peletakan Batu Pertama Pembangunan “SOS Desa Taruna Banda Aceh”.
Tepat pukul 14.00 WIB atau jam dua siang, acara dimulai dengan Pembacaan Susunan Acara oleh Mbak Citra sebagai MC. Setelah itu dilanjutkan dengan Pembacaan Ayat Suci Al-Qur’an yang dilantunkan dengan khidmat oleh Sdr. Maimun. Beliau adalah salah seorang penduduk di Desa Lamreung.
Sebelum memasuki acara pokok, ditampilkan persembahan hiburan dari anak-anak SOS Desa Taruna Banda Aceh berupa tarian “Ranup Lampuan”. Anak-anak yang menari adalah para remaja putri, yaitu Ulfa, Yuni, Fitri, Yusnidar, dan Yana. Mereka menari dengan percaya diri, tidak malu-malu, dan gembira. Tarian ini adalah tarian yang dikhususkan untuk menyambut para tamu undangan. Semua penari membawa ‘ranup’ (=sirih) yang tersimpan dalam sebuah ‘puan’ (=semacam mangkuk yang terbuat dari kuningan yang berfungsi sebagai tempat menyimpan sirih). Selesai menari, sirih-sirih tersebut disuguhkan kepada para tamu undangan untuk dimakan. Para tamu-pun mengambil sirih tersebut untuk dimakan, kemudian sebagian dari para tamu memberi uang ‘sawer’ kepada para penari. Anak-anak yang menari sangat senang sekali, terutama Fitri yang selalu tersenyum lebar karena mendapat ‘sawer’ paling banyak.
Acara selanjutnya diteruskan dengan pembacaan sambutan, yang dimulai oleh Bapak Di Mahmudi (Kepala Kemukiman Lamreung, yang membawahi 5 desa termasuk Desa Lamreung). Beliau sangat senang sekali dan mendukung keberadaan pembangunan SOS Desa Taruna Banda Aceh di wilayahnya.
Sambutan yang kedua disampaikan oleh Bapak Bupati Aceh Besar yang diwakili oleh Asisten II, yaitu Bapak Ridwan. Beliau juga sangat senang sekali dengan keberadaan SOS Desa Taruna yang sudah membantu meringankan beban anak-anak, baik yang korban Tsunami ataupun korban konflik.
Sambutan yang ketiga disampaikan oleh Ketua Yayasan SOS Desa Taruna Indonesia, yaitu Bapak Yusuf Gunawan. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan misi dan visi dari SOS Desa Taruna Indonesia, khususnya tentang keberadaan SOS Desa Taruna di Banda Aceh.
Sambutan yang keempat disampaikan oleh Pimpinan SOS Desa Taruna Indonesia, yaitu Bapak Hadiyanto Nitihardjo. Beliau menyampaikan ucapan terimakasih kepada masyarakat Desa Lamreung yang sudah menerima dengan terbuka dan membantu pendirian SOS Desa Taruna Banda Aceh. Tidak lupa, beliau juga menyampaikan ucapan terimakasih kepada Bapak Mukim, Bapak Camat, Bapak Bupati, dan Bapak Gubernur yang diwakili oleh Bapak Kepala Dinas Sosial TK I NAD yang sudah mendukung dan banyak membantu dalam proses pembagunan SOS Desa Taruna Banda Aceh.
Sambutan terakhir disampaikan oleh Pj. Gubernur NAD, yaitu Bapak Dr. Mustafa Abubakar. Namun pada saat tersebut, beliau berhalangan hadir dan diwakilkan kepada Kepala Dinas Sosial TK I NAD, yaitu Bapak Drs. Hanif Asmara. Dalam sambutannya, beliau menyatakan perasaannya sangat senang sekali dengan keberadaan SOS Desa Taruna yang sudah membantu meringankan beban penderitaan anak-anak di NAD. Beliau berharap, kelak anak-anak yang akan diasuh oleh SOS Desa Taruna Banda Aceh harus dibesarkan dan dididik dalam Budaya Aceh dengan lingkungan dan pendidikan yang Islami. Dengan demikian anak-anak SOS Desa Taruna di Nanggroe Aceh Darussalam dapat berkembang sesuai dengan budaya lingkungannya yang bernafaskan Islam.
Acara kemudian diteruskan dengan hiburan dari anak-anak SOS Desa Taruna Banda Aceh yaitu tarian “Bungong Seulanga”, yaitu sebuah tarian yang menggambarkan suasana anak-anak yang sedang bersuka cita dan bergembira pada saat mereka sedang memetik bunga Seulanga. Adapun anak-anak yang menari tersebut adalah Yana, Muna, Mistahul Jannah, Khalida Zia, dan Ramadhani. Kelima anak tersebut sangat senang dapat tampil dalam acara ini, mereka tidak malu-malu serta menari sambil tersenyum-senyum. Adapun yang melatih kedua tarian anak-anak tersebut adalah Ibu Rosmalia.
Berikutnya, tibalah pada acara puncak, yaitu acara peletakan batu pertama yang akan dilakukan oleh Kepala Dinas Sosial TK I NAD, Bapak Drs. Hanif Asmara. Acara tersebut tidak langsung dilaksanakan, tetapi terlebih dahulu diiringi dengan Kabaret (=gerak dan lagu).
Kabaret yang ditampilkan untuk mengiringi acara peletakan batu pertama ini adalah menceritakan perjalanan sejarah berdirinya SOS Kinderdorf di Kota Imst sampai pendirian SOS Desa Taruna di Banda Aceh. Kabaret ini melibatkan hampir semua anak-anak yaitu sebanyak 28 anak, sedangkan 3 anak lagi tidak ikut karena masih kecil. Sedangkan yang mempersiapkan rekaman musik, narasi dan latihannya adalah Mas Banteng dan Mbak Citra.
Adegan pertama adalah munculnya delapan anak sambil membawa senapan dan bazoka untuk menggambarkan suasana berperang dalam sejarah Perang Dunia ke-2 di Eropa. Peperangan tersebut banyak memakan korban jiwa. Anak-anak menangisi kepergian ayahnya, para ibu berduka menangisi kepergian suaminya. Dalam keadaan seperti itu, munculah sosok Bapak Herman Gmeiner sebagai seorang dokter yang ikut membantu para korban perang tersebut. Sosok Bapak Herman Gmeiner ini diperankan oleh Rahmat yang wajahnya ditutup dengan topeng foto Bapak Herman Gmeiner sambil berjalan-jalan diantara korban perang yang meninggal dunia.
Berikutnya masuklah beberapa anak yang melakukan gerakan-gerakan yang menggambarkan tentang proses pendirian SOS Kinderdorf di kota Imst, Austria. Dikisahkan Bapak Herman Gmeiner sedang merekrut beberapa ibu pengasuh dan anak-anak. Ada peran bapak, ada peran ibu, dan ada anak-anak yang pada saat itu semuanya sedang bermain, bergembira dalam kehangatan sebuah keluarga di SOS Kinderdorf. Ada yang bermain hom pim pa, slep duur, ada ibu yang sedang mendongeng, ada juga yang sedang berbaris-baris sambil mengibarkan bendera SOS Kinderdorf dan bendera beberapa negara anggota SOS Kinderdorf.
Selanjutnya muncul beberapa anak sambil berjalan berbaris untuk menggambarkan proses pendirian SOS Desa Taruna di Lembang, Indonesia. Dikisahkan Bapak Agus Prawoto yang diperankan oleh Heru sambil memakai topeng foto beliau sedang merekrut beberapa ibu pengasuh, pembina dan anak-anak. Bapak Agus Prawoto inilah sebagai pendiri SOS Desa Taruna di Indonesia dan menyebarkannya ke beberapa kota. Beberapa anak berjalan sambil membawa kertas karton yang bertulisankan “SOS Desa Taruna Lembang”, “SOS Desa Taruna Jakarta”, “SOS Desa Taruna Semarang”, “SOS Desa Taruna Bali”, dan “SOS Desa Taruna Flores”.
Adegan selanjutnya beberapa anak datang berjalan sambil berbaris, kemudian berlari-lari pelan hingga berlari-lari kencang. Adegan keempat ini menceritakan peristiwa tanggal 26 Desember 2004, yaitu Gempa dan Gelombang Tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam. Suara gelombang air laut begitu keras terdengar dari loud speaker. Semua penonton dengan serius memperhatikan gerakan anak-anak sedang berlari-larian tersebut, sambil mengacung-acungkan kedua-tangannya keatas lalu bergerak kekiri dan kekanan sambil memegang pom-pom yang terbuat dari tali rafia berwarna biru dan putih. Mereka sedang menggambarkan gelombang air laut yang sedang mengamuk menghancurkan semua benda dan makhluk yang ada.
Beberapa saat kemudian, tidak ada suara terdengar lagi, semua anak-anak meninggalkan pentas dan penonton terdiam. Pada saat tersebut, datanglah seorang anak bernama Sandi yang memerankan tokoh Pak Hadi, wajah Sandi ditutup dengan topeng foto Pak Hadi. Diikuti Satria yang memerankan Pak Trisno, wajah Satria ditutup dengan topeng foto Pak trisno, dan terakhir Abdurahman memerankan Pak Anno, wajah Abdurahman ditutup juga dengan topeng foto Pak Anno.
Semua yang menyaksikan gerakan ketiga anak tersebut tidak dapat menahan tawanya. Bapak-bapak, ibu-ibu, dan anak-anak, pokoknya semua yang melihat gerakan ketiga anak tersebut spontan tertawa dengan kencang dan puas. Disamping gerakan kakinya yang kaku dan lucu juga iringan musik suara drum-nya sangat pas dengan gerakan kakinya tersebut, hanya saja syairnya yang harus dirubah satu kata saja menjadi; ‘we will.. we will love you’ bukan ‘we will... we will rock you’, meskipun mungkin ada betulnya di waktu dulu ketiga bapak ini menyukai musik rock.
Diceritakan bahwa ketiga bapak tersebut adalah yang merencanakan program kegiatan SOS Desa Taruna Indonesia di Nanggroe Aceh Darussalam. Dikisahkan Pak Anno yang diperankan oleh Abdurahman sedang merekrut beberapa karyawan dan ibu pengasuh yang dilanjutkan dengan mengadakan training kepada para ibu tersebut. Dikisahkan juga beberapa ibu yang sedang bermain bersama anak-anak dalam keadaan suasana gembira, menari-nari, berjoged, berolahraga serta sedang melakukan beberapa kegiatan belajar dan mengaji. Semua peran tersebut adalah untuk menggambarkan persiapan berdirinya SOS Desa Taruna di Banda Aceh.
Tak lama kemudian, munculnya beberapa anak yang memakai kacamata hitam dengan memakai topi proyek berwarna kuning. Mereka sedang menceritakan kedatangan Tim Pembangunan ke Nanggroe Aceh Darussalam untuk merealisasikan program SOS Desa Taruna Indonesia yaitu untuk membangun sebuah SOS Desa Taruna di kota Banda Aceh.
Setelah semua gerakan anak-anak dan musik terhenti, akhirnya MC membacakan urutan nama yang akan meletakan batu pertama pembangunan SOS Desa Taruna Banda Aceh. Selubung papan nama proyek pembangunan sudah dibuka oleh Bapak Drs. Hanif Asmara (Kepala Dinas Sosial TK I NAD), kemudian dilanjutkan dengan peletakan batu pertama oleh beliau. Peletakan batu untuk yang berikutnya adalah Bapak Hadiyanto (Pimpinan SOS Desa Taruna Indonesia), Bapak Ridwan (Asisten 2 Bupati Aceh Besar), Bapak Camat Darul Imarah, Bapak Di Mahmudi (Kepala Mukim Lamreung), Bapak Yusuf Gunawan (Ketua Yayasan SOS Desa Taruna Indonesia), dan Ibu Sawitri Supardi Sadarjoen (Ketua Dewan Pengawas Yayasan SOS Desa Taruna Indonesia).
Bapak Hanif Asmara sempat tercengang-cengang sewaktu Pak Hadi menerangkan gambar-gambar bangunan yang akan didirikan secara lengkap dan detail.
Perlu diinformasikan juga bahwa kegiatan ini telah diliput oleh TVRI Stasiun Banda Aceh. Wawancara reporter TVRI Stasiun Banda Aceh dengan Bapak Hanif Asmara dan Bapak Hadiyanto merupakan klimaks dan akhir dari acara ini. Tepat Pukul 16.00 WIB acara peletakan batu pertama “SOS Desa Taruna Banda Aceh” selesai.
Acara peletakan batu pertama ini dihadiri oleh para ibu SOS, yaitu Ibu Sakdiah, Ibu Emma, Ibu Rosmani, Ibu Rosmalia, Ibu Nuraini dari Meulaboh, Ibu Nuraini dari Jantho, Ibu Mardalena. Semua ibu-ibu inilah yang selalu mendampingi anak-anaknya dengan sabar dalam semua kegiatan persiapan dari awal hingga akhir. Sebagian dari Ibu Pengasuh tidak dapat hadir karena sedang training di Bandung, yaitu Ibu Eva, Ibu Murni, Ibu Zahra, Ibu Ida, dan Ibu Fadhilah. Yang bertugas sebagai penerima tamu adalah Kak Rika dan Ibu Risma, sedangkan yang sibuk dengan urusan transportasi adalah Pak Irwan dan Bang Joni.
Ikut juga hadir dalam mensukseskan acara ini adalah teman-teman dari SOS Desa Taruna Meulaboh, yaitu Pak Yudi (Koordinator), Pak Teguh (Pengawas Pembangunan), dan Bang Mumun.
Bantuan yang turut mensukseskan acara ini datang juga dari kontraktor PT Median Cipta Graha dan masyarakat Desa Lamreung. Akhir kata, segenap Keluarga Besar SOS Desa Taruna Banda Aceh mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu yang telah membantu terlaksananya acara peletakan batu pertama tersebut.
Sekian dan terimakasih! Wassalam! (ANNO)
Pada hari Selasa, tanggal 29 Agustus 2006, tim kerja SOS Desa Taruna Indonesia di Banda Aceh, dibawah koordinasi Pak Anno mengadakan kegiatan acara Peletakan Batu Pertama Pembangunan “SOS Desa Taruna Banda Aceh”.
Tepat pukul 14.00 WIB atau jam dua siang, acara dimulai dengan Pembacaan Susunan Acara oleh Mbak Citra sebagai MC. Setelah itu dilanjutkan dengan Pembacaan Ayat Suci Al-Qur’an yang dilantunkan dengan khidmat oleh Sdr. Maimun. Beliau adalah salah seorang penduduk di Desa Lamreung.
Sebelum memasuki acara pokok, ditampilkan persembahan hiburan dari anak-anak SOS Desa Taruna Banda Aceh berupa tarian “Ranup Lampuan”. Anak-anak yang menari adalah para remaja putri, yaitu Ulfa, Yuni, Fitri, Yusnidar, dan Yana. Mereka menari dengan percaya diri, tidak malu-malu, dan gembira. Tarian ini adalah tarian yang dikhususkan untuk menyambut para tamu undangan. Semua penari membawa ‘ranup’ (=sirih) yang tersimpan dalam sebuah ‘puan’ (=semacam mangkuk yang terbuat dari kuningan yang berfungsi sebagai tempat menyimpan sirih). Selesai menari, sirih-sirih tersebut disuguhkan kepada para tamu undangan untuk dimakan. Para tamu-pun mengambil sirih tersebut untuk dimakan, kemudian sebagian dari para tamu memberi uang ‘sawer’ kepada para penari. Anak-anak yang menari sangat senang sekali, terutama Fitri yang selalu tersenyum lebar karena mendapat ‘sawer’ paling banyak.
Acara selanjutnya diteruskan dengan pembacaan sambutan, yang dimulai oleh Bapak Di Mahmudi (Kepala Kemukiman Lamreung, yang membawahi 5 desa termasuk Desa Lamreung). Beliau sangat senang sekali dan mendukung keberadaan pembangunan SOS Desa Taruna Banda Aceh di wilayahnya.
Sambutan yang kedua disampaikan oleh Bapak Bupati Aceh Besar yang diwakili oleh Asisten II, yaitu Bapak Ridwan. Beliau juga sangat senang sekali dengan keberadaan SOS Desa Taruna yang sudah membantu meringankan beban anak-anak, baik yang korban Tsunami ataupun korban konflik.
Sambutan yang ketiga disampaikan oleh Ketua Yayasan SOS Desa Taruna Indonesia, yaitu Bapak Yusuf Gunawan. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan misi dan visi dari SOS Desa Taruna Indonesia, khususnya tentang keberadaan SOS Desa Taruna di Banda Aceh.
Sambutan yang keempat disampaikan oleh Pimpinan SOS Desa Taruna Indonesia, yaitu Bapak Hadiyanto Nitihardjo. Beliau menyampaikan ucapan terimakasih kepada masyarakat Desa Lamreung yang sudah menerima dengan terbuka dan membantu pendirian SOS Desa Taruna Banda Aceh. Tidak lupa, beliau juga menyampaikan ucapan terimakasih kepada Bapak Mukim, Bapak Camat, Bapak Bupati, dan Bapak Gubernur yang diwakili oleh Bapak Kepala Dinas Sosial TK I NAD yang sudah mendukung dan banyak membantu dalam proses pembagunan SOS Desa Taruna Banda Aceh.
Sambutan terakhir disampaikan oleh Pj. Gubernur NAD, yaitu Bapak Dr. Mustafa Abubakar. Namun pada saat tersebut, beliau berhalangan hadir dan diwakilkan kepada Kepala Dinas Sosial TK I NAD, yaitu Bapak Drs. Hanif Asmara. Dalam sambutannya, beliau menyatakan perasaannya sangat senang sekali dengan keberadaan SOS Desa Taruna yang sudah membantu meringankan beban penderitaan anak-anak di NAD. Beliau berharap, kelak anak-anak yang akan diasuh oleh SOS Desa Taruna Banda Aceh harus dibesarkan dan dididik dalam Budaya Aceh dengan lingkungan dan pendidikan yang Islami. Dengan demikian anak-anak SOS Desa Taruna di Nanggroe Aceh Darussalam dapat berkembang sesuai dengan budaya lingkungannya yang bernafaskan Islam.
Acara kemudian diteruskan dengan hiburan dari anak-anak SOS Desa Taruna Banda Aceh yaitu tarian “Bungong Seulanga”, yaitu sebuah tarian yang menggambarkan suasana anak-anak yang sedang bersuka cita dan bergembira pada saat mereka sedang memetik bunga Seulanga. Adapun anak-anak yang menari tersebut adalah Yana, Muna, Mistahul Jannah, Khalida Zia, dan Ramadhani. Kelima anak tersebut sangat senang dapat tampil dalam acara ini, mereka tidak malu-malu serta menari sambil tersenyum-senyum. Adapun yang melatih kedua tarian anak-anak tersebut adalah Ibu Rosmalia.
Berikutnya, tibalah pada acara puncak, yaitu acara peletakan batu pertama yang akan dilakukan oleh Kepala Dinas Sosial TK I NAD, Bapak Drs. Hanif Asmara. Acara tersebut tidak langsung dilaksanakan, tetapi terlebih dahulu diiringi dengan Kabaret (=gerak dan lagu).
Kabaret yang ditampilkan untuk mengiringi acara peletakan batu pertama ini adalah menceritakan perjalanan sejarah berdirinya SOS Kinderdorf di Kota Imst sampai pendirian SOS Desa Taruna di Banda Aceh. Kabaret ini melibatkan hampir semua anak-anak yaitu sebanyak 28 anak, sedangkan 3 anak lagi tidak ikut karena masih kecil. Sedangkan yang mempersiapkan rekaman musik, narasi dan latihannya adalah Mas Banteng dan Mbak Citra.
Adegan pertama adalah munculnya delapan anak sambil membawa senapan dan bazoka untuk menggambarkan suasana berperang dalam sejarah Perang Dunia ke-2 di Eropa. Peperangan tersebut banyak memakan korban jiwa. Anak-anak menangisi kepergian ayahnya, para ibu berduka menangisi kepergian suaminya. Dalam keadaan seperti itu, munculah sosok Bapak Herman Gmeiner sebagai seorang dokter yang ikut membantu para korban perang tersebut. Sosok Bapak Herman Gmeiner ini diperankan oleh Rahmat yang wajahnya ditutup dengan topeng foto Bapak Herman Gmeiner sambil berjalan-jalan diantara korban perang yang meninggal dunia.
Berikutnya masuklah beberapa anak yang melakukan gerakan-gerakan yang menggambarkan tentang proses pendirian SOS Kinderdorf di kota Imst, Austria. Dikisahkan Bapak Herman Gmeiner sedang merekrut beberapa ibu pengasuh dan anak-anak. Ada peran bapak, ada peran ibu, dan ada anak-anak yang pada saat itu semuanya sedang bermain, bergembira dalam kehangatan sebuah keluarga di SOS Kinderdorf. Ada yang bermain hom pim pa, slep duur, ada ibu yang sedang mendongeng, ada juga yang sedang berbaris-baris sambil mengibarkan bendera SOS Kinderdorf dan bendera beberapa negara anggota SOS Kinderdorf.
Selanjutnya muncul beberapa anak sambil berjalan berbaris untuk menggambarkan proses pendirian SOS Desa Taruna di Lembang, Indonesia. Dikisahkan Bapak Agus Prawoto yang diperankan oleh Heru sambil memakai topeng foto beliau sedang merekrut beberapa ibu pengasuh, pembina dan anak-anak. Bapak Agus Prawoto inilah sebagai pendiri SOS Desa Taruna di Indonesia dan menyebarkannya ke beberapa kota. Beberapa anak berjalan sambil membawa kertas karton yang bertulisankan “SOS Desa Taruna Lembang”, “SOS Desa Taruna Jakarta”, “SOS Desa Taruna Semarang”, “SOS Desa Taruna Bali”, dan “SOS Desa Taruna Flores”.
Adegan selanjutnya beberapa anak datang berjalan sambil berbaris, kemudian berlari-lari pelan hingga berlari-lari kencang. Adegan keempat ini menceritakan peristiwa tanggal 26 Desember 2004, yaitu Gempa dan Gelombang Tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam. Suara gelombang air laut begitu keras terdengar dari loud speaker. Semua penonton dengan serius memperhatikan gerakan anak-anak sedang berlari-larian tersebut, sambil mengacung-acungkan kedua-tangannya keatas lalu bergerak kekiri dan kekanan sambil memegang pom-pom yang terbuat dari tali rafia berwarna biru dan putih. Mereka sedang menggambarkan gelombang air laut yang sedang mengamuk menghancurkan semua benda dan makhluk yang ada.
Beberapa saat kemudian, tidak ada suara terdengar lagi, semua anak-anak meninggalkan pentas dan penonton terdiam. Pada saat tersebut, datanglah seorang anak bernama Sandi yang memerankan tokoh Pak Hadi, wajah Sandi ditutup dengan topeng foto Pak Hadi. Diikuti Satria yang memerankan Pak Trisno, wajah Satria ditutup dengan topeng foto Pak trisno, dan terakhir Abdurahman memerankan Pak Anno, wajah Abdurahman ditutup juga dengan topeng foto Pak Anno.
Semua yang menyaksikan gerakan ketiga anak tersebut tidak dapat menahan tawanya. Bapak-bapak, ibu-ibu, dan anak-anak, pokoknya semua yang melihat gerakan ketiga anak tersebut spontan tertawa dengan kencang dan puas. Disamping gerakan kakinya yang kaku dan lucu juga iringan musik suara drum-nya sangat pas dengan gerakan kakinya tersebut, hanya saja syairnya yang harus dirubah satu kata saja menjadi; ‘we will.. we will love you’ bukan ‘we will... we will rock you’, meskipun mungkin ada betulnya di waktu dulu ketiga bapak ini menyukai musik rock.
Diceritakan bahwa ketiga bapak tersebut adalah yang merencanakan program kegiatan SOS Desa Taruna Indonesia di Nanggroe Aceh Darussalam. Dikisahkan Pak Anno yang diperankan oleh Abdurahman sedang merekrut beberapa karyawan dan ibu pengasuh yang dilanjutkan dengan mengadakan training kepada para ibu tersebut. Dikisahkan juga beberapa ibu yang sedang bermain bersama anak-anak dalam keadaan suasana gembira, menari-nari, berjoged, berolahraga serta sedang melakukan beberapa kegiatan belajar dan mengaji. Semua peran tersebut adalah untuk menggambarkan persiapan berdirinya SOS Desa Taruna di Banda Aceh.
Tak lama kemudian, munculnya beberapa anak yang memakai kacamata hitam dengan memakai topi proyek berwarna kuning. Mereka sedang menceritakan kedatangan Tim Pembangunan ke Nanggroe Aceh Darussalam untuk merealisasikan program SOS Desa Taruna Indonesia yaitu untuk membangun sebuah SOS Desa Taruna di kota Banda Aceh.
Setelah semua gerakan anak-anak dan musik terhenti, akhirnya MC membacakan urutan nama yang akan meletakan batu pertama pembangunan SOS Desa Taruna Banda Aceh. Selubung papan nama proyek pembangunan sudah dibuka oleh Bapak Drs. Hanif Asmara (Kepala Dinas Sosial TK I NAD), kemudian dilanjutkan dengan peletakan batu pertama oleh beliau. Peletakan batu untuk yang berikutnya adalah Bapak Hadiyanto (Pimpinan SOS Desa Taruna Indonesia), Bapak Ridwan (Asisten 2 Bupati Aceh Besar), Bapak Camat Darul Imarah, Bapak Di Mahmudi (Kepala Mukim Lamreung), Bapak Yusuf Gunawan (Ketua Yayasan SOS Desa Taruna Indonesia), dan Ibu Sawitri Supardi Sadarjoen (Ketua Dewan Pengawas Yayasan SOS Desa Taruna Indonesia).
Bapak Hanif Asmara sempat tercengang-cengang sewaktu Pak Hadi menerangkan gambar-gambar bangunan yang akan didirikan secara lengkap dan detail.
Perlu diinformasikan juga bahwa kegiatan ini telah diliput oleh TVRI Stasiun Banda Aceh. Wawancara reporter TVRI Stasiun Banda Aceh dengan Bapak Hanif Asmara dan Bapak Hadiyanto merupakan klimaks dan akhir dari acara ini. Tepat Pukul 16.00 WIB acara peletakan batu pertama “SOS Desa Taruna Banda Aceh” selesai.
Acara peletakan batu pertama ini dihadiri oleh para ibu SOS, yaitu Ibu Sakdiah, Ibu Emma, Ibu Rosmani, Ibu Rosmalia, Ibu Nuraini dari Meulaboh, Ibu Nuraini dari Jantho, Ibu Mardalena. Semua ibu-ibu inilah yang selalu mendampingi anak-anaknya dengan sabar dalam semua kegiatan persiapan dari awal hingga akhir. Sebagian dari Ibu Pengasuh tidak dapat hadir karena sedang training di Bandung, yaitu Ibu Eva, Ibu Murni, Ibu Zahra, Ibu Ida, dan Ibu Fadhilah. Yang bertugas sebagai penerima tamu adalah Kak Rika dan Ibu Risma, sedangkan yang sibuk dengan urusan transportasi adalah Pak Irwan dan Bang Joni.
Ikut juga hadir dalam mensukseskan acara ini adalah teman-teman dari SOS Desa Taruna Meulaboh, yaitu Pak Yudi (Koordinator), Pak Teguh (Pengawas Pembangunan), dan Bang Mumun.
Bantuan yang turut mensukseskan acara ini datang juga dari kontraktor PT Median Cipta Graha dan masyarakat Desa Lamreung. Akhir kata, segenap Keluarga Besar SOS Desa Taruna Banda Aceh mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu yang telah membantu terlaksananya acara peletakan batu pertama tersebut.
Sekian dan terimakasih! Wassalam! (ANNO)
