Sebelum kami menuju kesana, kami sempat mengisi liburan sekolah ini dengan kegiatan belajar membuat boneka dan anyaman rotan selama 2 hari. Kami semua betul-betul menikmati liburan, kami belajar, bermain dan tertawa-tawa, kami semua senang dan bahagia. Inilah ceritanya:
Pada hari Rabu dan Kamis tanggal 17-18 Januari 2007, kegiatan membuat boneka dan anyaman rotan dimulai. Belajar membuat boneka bertempat di Panterik, dan belajar mengayam rotan bertempat di Lembah Hijau. Yang mengajar membuat boneka adalah ibu-ibu SOS, seperti ibu Eva, ibu Ida, ibu Lia, ibu Aini, dan ibu Ema. Sedangkan pesertanya adalah semua anak perempuan. Kemudian yang mengajar anyaman rotan yaitu bapak Rajali (seorang pengrajin anyaman rotan yang mempunyai toko kerajinan rotan didaerah Pagar Air). Pesertanya adalah semua anak laki-laki.
Kegiatan anyaman rotan dimulai pukul 09.00 sampai pukul 12.00. Istirahat pukul 12.00 sampai pukul 14.00. Kemudian acara dilanjutkan lagi pukul 14.00 sampai pukul 16.00. “Pertama aku bingung, salahhh terus.., tapi setelah diajari bapak Rajali akhirnya aku bisa dan akupun langsung membuat dua buah, yang satu kecil untuk tempat sabun dan yang satu besar untuk tempat cabe”, begitu cerita Mulia bersemangat.
Sedangkan kegiatan membuat boneka dimulai pukul 11.00. Istirahat pukul 13.00 sampai pukul 14.00. Kemudian acara dilanjutkan lagi pukul 14.00 sampai pukul 16.00. “Pertama memang nggak bisa, abis itu diajari sama ibu Ida, terus aku jadi pandai membuat boneka kura-kura dan kupu-kupu. Susahnya sewaktu menjahit, aku nggak bisa, tapi pelan-pelan akhirnya aku jadi bisa” begitu cerita Mida. “Tadi sore, aku buat boneka ikan sendirian saja”, tambahnya.
Setelah berakhir kegiatan belajar membuat boneka dan anyaman rotan, kami semua sibuk menyiapkan semua peralatan dan perlengkapan untuk acara selanjutnya, yaitu “farming tour” di BLPP Saree.
Pada hari Jum’at tanggal 19 Januari 2007, tepat pukul 08.00 kami sudah siap berkumpul di kantor. Lima menit kemudian, bis yang dipinjam dari IAIN Ar-Raniry yang akan mengantarkan kami ke tempat tujuan sudah tiba. Kamipun segera membawa tas, ransel, tikar, dan barang yang lainnya keatas bis.
Kami tak sabar bertanya, “Pak Anno, kenapa bis-nya nggak berangkat juga, kami sudah lama menunggu?”. “Iya betul, tapi kita masih menunggu teman kita yang lain, bersabarlah..!” jawab pak Anno. Beberapa saat kemudian teman-teman kamipun tiba, mereka langsung bergegas menuju bis, pada saat inilah suasana jadi ramai dan ribut sekali oleh suara anak-anak yang ingin lebih dahulu mendapatkan posisi tempat duduk yang nyaman. Ada anak yang ingin duduk di barisan depan, ada anak yang suka duduk di kursi belakang, dan ada juga yang selalu ingin didekat jendela.
Suasana kemudian berlangsung hening dan tenang tatkala kami semua berdo’a kepada Sang Pencipta untuk memohon keselamatan dan perlindungan. Akhirnya, tepat pukul 10.00, bis yang kami naiki mulai berangkat meninggalkan kota Banda Aceh menuju ke BLPP Saree, Aceh Besar. Sedangkan jumlah peserta mencapai 42 orang yang terdiri dari 27 anak-anak, 8 orang ibu, dan 7 orang karyawan.
Kami tiba di BLPP Saree pada pukul 11.30 Wib. Kemudian kamipun langsung mendekati secarik kertas yang menempel dipintu kamar masing-masing. Dalam kertas tersebut, nama-nama kami sudah tertulis dan terbagi ke dalam 4 kelompok.
Setelah kami menyimpan semua perlengkapan di kamar masing-masing, kami segera makan siang, dan setelah itu kami yang laki-laki harus berjalan 200 meter untuk pergi ke mesjid melakukan sholat Jum’at.
Beberapa saat kemudian, kamipun berbaris menurut masing-masing kelompoknya. Acara dibuka dengan sangat singkat oleh Pak Anno yang mengingatkan kami pada 3 hal, yaitu; 1) harap mengikuti semua kegiatan dengan baik, gunakan kesempatan yang berharga ini untuk menambah ilmu. 2) susunan acara selama kami berkegiatan di BLPP Saree. 3) pada waktu kami makan, kami harus selalu ingat bahwa masih ada teman kami yang belum makan.
Sekarang kami sudah terbagi 4 kelompok, kami sudah siap untuk mengikuti game-game yang akan diberikan selama dalam perjalanan untuk pengenalan tempat mengitari BLPP (Balai Latihan dan Penyuluhan Pertanian) dan melewati BBI (Balai Benih Induk) yang berjarak kurang lebih 1 kilometer. Kelompok 1 didampingi oleh Kak Citra, kelompok 2 didampingi oleh Kak Rika, kelompok 3 didampingi oleh Pak Irwan dan kelompok 4 didampingi oleh Mas Banteng.
Setelah kami diberi pengarahan oleh Mas Banteng tentang game-game tersebut, akhirnya berangkatlah kelompok 1 dan 2 ke sebelah timur, sedangkan kelompok 3 dan 4 ke arah barat. Adapun game-game yang kami ikuti adalah; menjinakan bom, memindahkan balon, menyatu dalam sarung, boat dalam sungai dan jaring laba-laba. Apabila kami dapat menyelesaikan satu game maka kami boleh mengambil bendera sebanyak-banyaknya. Jadi, apabila ada kelompok yang dapat mengambil bendera dalam jumlah yang banyak maka merekalah pemenangnya. “Sewaktu melewati rintangan yang pertama, kami agak sulit melewatinya, kami harus terbang seperti superman”, kata Satria Eka Sakti.
Acara selesai pada pukul 18.00 wib, kamipun beristirahat sebentar lalu bergegas untuk mandi sore. Baju kami kotor dan basah, badan kami lemas dan bau keringat, namun api semangat masih menyala dalam jiwa kami.
Tepat pukul 19.00 wib, kami sholat maghrib berjamaah di meunasah. Kami bertanya dalam hati, mengapa meunasahnya kosong tidak ada orang? Baru setelah rakaat kedua, masuklah seorang bapak kedalam shaf. Setelah selesai sholat Maghrib, nampak Pak Anno dan bapak tadi terlibat pembicaraan. Tak lama kemudian, kami mendapat informasi bahwa bapak yang masuk ditengah rakaat kedua tersebut adalah pengurus meunasah dan sering menjadi imam.
Kami semua betul-betul menikmati makan malam, kami puas dengan menu makanan dan snack-nya. Setelah makan malam, kami semua termasuk ibu dan karyawan berkumpul di ruangan aula BLPP untuk mengikuti acara selanjutnya yaitu, “bermain peran”. Tiap-tiap kelompok tampil ke depan satu persatu untuk memainkan peran. Ada yang berperan menjadi Ibu SOS, Bapak SOS, Anak Balita, Guru, Murid, Pedagang, Pembeli dan sebagainya. Kamipun belajar ber-empati kepada teman kami penyandang cacat seperti Abdurahman dan Sandi yang memerankan tuna netra, Yovan dan Sayuti yang memerankan tuna wicara, Satria yang memerankan tuna rungu dan Raja yang memerankan penderita lumpuh kaki. Kami mencoba belajar merasakan apa yang mereka (penyandang cacat) rasakan. Kami semua bersyukur atas semua pemberianNya, kami diberi kelengkapan, kesehatan, dan kebahagiaan.
“Permainan orang buta, orang bisu dan orang tidak bisa mendengar, mereka bertiga kekurangan indra, mereka sangat persis kayak di sinetron”, kata Lisa. Memang seni peran kami adalah seni peran amatir, tetapi kami hanya mempunyai ‘kepolosan’ dalam berpikir dan bertindak, sehingga semua penonton tertawa terbahak-bahak melihat peran kami yang begitu sangat polos. “Saat mereka tampil kedepan, mereka sangat lucu sekali, saya tertawa sampai mengeluarkan air mata”, ungkap Heru.
Acara ini selesai pada pukul 22.00 wib. Selama 2 jam tersebut kami sudah dihibur oleh teman-teman kami sendiri. Ternyata mereka pandai mengocok perut kami. Suasana di aula menjadi riuh gelak tawa, pada malam itu kami betul-betul tidak ingin meninggalkan ruangan aula, namun apadaya, besok pagi kami harus bangun pagi.
Pagi hari pukul 08.00 wib, kami berkumpul didepan halaman BLPP untuk berolahraga ‘senam pagi’ bersama Pak Anno. Namun, baru beberapa gerakan saja tiba-tiba hujan turun. Akhirnya kami semua berteduh didepan kamar masing-masing, baru setelah hujan berhenti senampun dilanjutkan kembali. Namun ternyata, baru beberapa menit hujan turun lagi sehingga senam pagi berhenti untuk kedua kalinya
Hujan akhirnya reda pukul 10.00 wib, kami melanjutkan acara kunjungan ke BBI untuk belajar okulasi tanaman. “Nanti kalian akan diajarkan cara menyambung batang pohon (stek) dan cangkok”, begitu kata Pak Ismanto (salah seorang pegawai BBI yang mengajari kami). Kegiatan ini bukan yang mudah kami pelajari, ini sebuah pengalaman baru buat kami. “Pekerjaan yang sulit adalah sewaktu memotong tangkai pohon durian untuk di-stek” kata Nova. Selain itu kamipun diperbolehkan oleh Pak Al (pegawai BLPP) untuk melihat-lihat tempat pembibitan bahkan diajak masuk kedalam green house.
Setelah makan siang dan sholat Dhuhur, kami melanjutkan pelajaran menanam pohon jagung mulai pukul 14.30 sampai pukul 17.00 wib. Yang mengajari kami adalah Bapak Sarna, dia adalah salah seorang pekerja lapangan BLPP. Kami mendengarkan semua pelajaran yang diberikan olehnya, termasuk diperlihatkan kepada kami beberapa contoh bibit jagung biasa dan jagung manis, bibit cabe, bibit tomat, bibit pepaya, dan bibit-bibit yang lainnya.
Begitu acara menanam jagung selesai selama kurang lebih satu jam, kami semua diajak Pak Al pergi ke kebun ubi. Kami senang ketika diperbolehkan untuk membawa ubi yang sudah besar untuk dibawa pulang kerumah. Maka kamipun segera panen ubi, ada yang membawa ubi banyak sekali dimasukkan kedalam kantong plastik, ada juga yang dimasukkan kedalam bajunya, padahal baju tersebut sudah pasti terkena getahnya. Bahkan kamipun diperbolehkan juga untuk membawa buah sawo dan pepaya.
Selepas sholat maghrib dan makan malam, kami semua berkumpul dihalaman samping untuk mengikuti acara selanjutnya yaitu ‘api unggun’. Pukul 21.00 wib, kayu-kayu kering sudah disusun untuk mulai dinyalakan. Tetapi tiba-tiba gerimis datang tak diundang, kami kesulitan menyalakan apinya. “Detik demi detik, menit demi menit api belum menyala, kayu belum terbakar, mungkin kayunya basah!”, seru Ulfa. Namun kemudian salah satu ibu SOS, yaitu ibu Nuraini menghampiri tumpukan kayu tersebut sampil membawa daun-daun kelapa yang sudah kering, dilipat-lipat dan terus dimasukan kedalam celah-celah kayu tersebut. Beberapa saat kemudian, api mulai menyala, semakin lama semakin membesar. Kamipun semua senang melihat api sudah menyala, kami sangat berterimakasih kepada ibu Nuraini.
Acara dimulai dan dibuka dengan do’a tepat pukul 21.30 wib. Selanjutnya Pak Anno menyampaikan pesan-pesannya kepada kami sehubungan malam tersebut bertepatan dengan malam tahun baru Hijriyah, yaitu tahun baru kaum muslim diseluruh dunia. Tak lupa membagikan hadiah kepada para kelompok pemenang.
Kemudian acara dilanjutkan oleh Pak Irwan dan Mas Banteng untuk mendampingi kami dalam mengisi kegiatan dengan penampilan bernyanyi bersama, berpidato, bersuka ria dalam gerak dan lagu. Kamipun harus maju kedepan satu persatu untuk mengucapkan harapan-harapannya menjelang tahun baru. “Saya akan bersungguh-sungguh belajar, karena cita-cita saya menjadi ‘sebuah ustadz!” teriak Sayuti dengan suara lantangnya menggema keseluruh pelosok kaki gunung Seulawah. Mendengar apa yang dikatakan tersebut kami semua tertawa terbahak-bahak, karena seharusnya berkata ‘seorang ustadz’ bukan ‘sebuah ustadz’. “Saya akan giat belajar dan berolahraga, karena cita-cita saya menjadi seorang E-U!”, seru Rahmat dengan mantapnya. Kami sempat berpikir lama, kemudian setelah itu kami semua tertawa terbahak-bahak untuk yang kedua kalinya, karena ‘E-U’ itu maksudnya ‘AU’ yaitu Angkatan Udara.
Acara selesai ditutup dengan do’a tepat pukul 23.00 wib. “Pada hari Minggu pagi, kami semua sudah berkemas-kemas untuk pulang, kami semua merasa sangat senang, tapi kenapa begitu cepat masa-masa indah seperti ini berlalu”, seru Yuni yang matanya nampak berkaca-kaca. (ANNO)
